Proses Itu Penderitaan

First, sudah lama saya tidak ‘berusaha’ untuk menuangkan ide dan keluh kesah di sebuah media digital. Kira-kira hampir 10 tahun semenjak selesai kuliah saya juga tidak pernah ingin menulis di blog (alamat lama: lumansupra.wordpress.com)

Akhir-akhir ini entah mengapa tiba-tiba muncul hasrat untuk menulis di halaman blog ini. Baik pas saat nyetir ke tempat kerja ataupun pulang kerja (karena waktu paling privasi menurut saya 😀 )

Starting to Work

Awal perjalanan karir bisa dibilang masih dalam koridor ilmu yang saya pelajari, di dunia Teknologi Informasi. Berawal dari seorang teknisi hardware, software, sampai dengan jaringan saya kerjakan tanpa pilih-pilih pekerjaan. Bahkan sampai dengan instalasi listrik di ‘wuwungan‘ di atas asbes.

Keuntungannya, saya bisa mempelajari hal-hal baru di waktu itu. Tapi dengan catatan sedikit teori dan banyak trial-error dalam menyelesaikan pekerjaan. Tapi it’s okay, selama saya enjoy lanjut trooossss….

But, finally… some problems are waiting me ahead…

Kurang Fokus

Yup, karena saya suka dengan hal-hal yang baru, akhirnya mau tidak mau saya harus mencari kesenangan dalam mempelajari semuanya.

Bisa dikatakan, saya lebih sering (suka) belajar sesuatu pada level proses 50% s/d 70% dan langsung ingin belajar hal lainnya mulai dari nol. Trus, yang belajar sampai 70% tadi?

Deprecated lah… don’t care 😀

Hal itu yang menjadi alasan utama saya tidak bisa secara spesifik dikatakan seorang ahli dalam sesuatu bidang.

Tapi sisi positifnya, I understand all of the concept of everything about them…

Tapi masih ada sisi negatif saya yang nggak mau ketinggalan, bahkan sampai sekarang.

Kira-kira, beginilah mapping dari skill yang pernah saya pelajari

Bosen-an

Pernah saya berusaha dan niat untuk mempelajari sesuatu di bidang Multimedia yaitu dunia fotografi. Mulai dari investasi alat yang kita tahu bahwa tidak ada yang tidak murah (bahkan saya pernah menghabiskan gaji 1 bulan hanya demi membeli 1 tas kamera SLR, itupun second) 🙁

1 tahun berlalu setelah bergelut di dunia ‘intip, titit, jepret‘ dan akhirnya memberanikan diri untuk go-commercial dengan membuka jasa foto keliling dan panggilan (wedding, red)

Almost 3 years, I felt there is something wrong with my path…

Iya, memang benar saya merasa bosan dengan fotografi saat itu. Sama halnya dengan saya mempelajari desain grafis, edit foto sampai dengan editing video animasi ada sesuatu yang tidak bisa membuat saya merasa puas dengan hasil yang sudah tercapai

Akhirnya dengan dua hal antagonis tadi saya merasa tidak ada yang bisa membuat pikiran ini tertantang dan berkembang. And life goes on… (LeAnn Rimes playing…)

Enjoy

Tantangan saat itu yang membuat saya menikmati proses begadang, pusing karena browsing sampai puluhan tab browser stackoverflow karena suatu error code atau service postgresql tidak berjalan di linux adalah ingin membuktikan kepada siapapun bahwa ‘age is just a number’.

Selain itu, saya mulai tersadar bahwa selama ini batasan yang ada di sekitar saya itu dibuat oleh saya sendiri. The problems is just one letter, that is ‘I’

Dengan itu akhirnya mau tidak mau saya harus berusaha membuat batasan yang lebih luas sekaligus target yang lebih spesifik untuk bisa memenuhi tantangan diri sendiri ini. Hasilnya, sudah hampir 4 tahun saya lebih sering melakukan ‘debugging‘ daripada ‘ngoding‘ dan itu tidak terasa sampai-sampai saya sering dibully diingatkan oleh istri soal usia yang sudah melampaui kepala tiga